Pertemuan mereka tidak dramatis. Tidak ada cinta pada pandangan pertama. Yang ada hanyalah percakapan canggung, jarak yang terjaga, dan rasa penasaran yang tumbuh pelan. Namun dari pertemuan kecil itulah, keduanya mulai saling melihat celah di balik topeng masing-masing. Seiring waktu, hubungan mereka berkembang bukan sebagai penyelamat satu sama lain, tetapi sebagai cermin. Mereka dipaksa menghadapi bagian diri yang selama ini dihindari: rasa bersalah, trauma, dan ketakutan akan kehilangan lagi. Namun tidak semua luka bisa sembuh hanya dengan cinta. Masa lalu terus mengejar, rahasia perlahan terungkap, dan keduanya harus memilih—apakah mereka berani menyatukan dua “setengah” kehidupan yang retak, atau justru mundur demi melindungi diri sendiri.