What We Do in the Shadows Season 3 dibuka dengan kehebohan besar: para vampir Laszlo, Nadja, Nandor, dan Colin Robinson tiba-tiba diangkat menjadi bagian dari Dewan Vampir. Pengangkatan itu bukan karena prestasi membanggakan, melainkan rangkaian peristiwa kacau pada akhir musim sebelumnya. Tugas baru yang seharusnya prestisius ini justru berubah menjadi sumber masalah baru, karena mereka sama sekali tidak sepakat tentang bagaimana seharusnya menjalankan kekuasaan. Nandor, yang kerap berada dalam krisis eksistensial, mulai mempertanyakan hidup abadinya—termasuk apakah ia masih sanggup menjalani hubungan atau malah ingin beristirahat selamanya dalam “super slumber”. Nadja dan Laszlo terjebak dalam perebutan kendali Dewan Vampir, masing-masing dengan ambisi dan gaya memimpin yang saling bertolak belakang. Sementara itu, Guillermo, sang familiar yang kini lebih kuat dan percaya diri setelah mengungkap garis keturunan pemburu vampirnya, menjadi kunci keselamatan para vampir… meski statusnya masih “tidak jelas” antara pembantu, ancaman, atau penyelamat tetap. Salah satu plot paling mencolok musim ini adalah perubahan tak terduga pada Colin Robinson, vampir energi yang menjalani salah satu alur terbesar dalam sejarah serial ini—sebuah kejutan yang tidak hanya mengundang tawa, tetapi juga memberi warna emosional yang jarang muncul di musim-musim sebelumnya. Dengan gaya pengambilan gambar dokumenter yang khas, setiap episode menghadirkan situasi kocak, mulai dari konflik birokrasi vampir, eksperimen supernatural yang salah kaprah, hingga drama internal rumah tangga yang tak pernah gagal membuat penonton tersenyum geli.